Kisaran waktu tempuh (bisa dikutip): 7–18 hari
| Asal | Tujuan | Waktu | Keterangan basis |
|---|---|---|---|
| Jakarta (Tanjung Priok) | Shenzhen / Guangzhou | 7–9 hari | Leg laut direct call ke China Selatan |
| Jakarta (Tanjung Priok) | Shanghai / Ningbo | 8–11 hari | Leg laut direct call ke China Timur; dengan basis port-to-port (termasuk tunggu dan sambungan) umumnya 12–18 hari |
| Surabaya (Tanjung Perak) | pelabuhan utama China | 12–18 hari | Pelabuhan luar biasanya transshipment via Singapura; Semarang dan Makassar bahkan harus ditarik balik ke Jakarta atau Surabaya dulu |
Frekuensi keberangkatan:Jakarta punya direct call mingguan tetap ke Shanghai/Ningbo maupun Shenzhen/Guangzhou
Yang sebenarnya menentukan jalur ini
Indonesia–Tiongkok adalah jalur yang dua arahnya sama-sama sudah dikuasai, tetapi jebakannya tidak simetris: untuk arah ekspor jebakannya ada di berapa hari di laut, untuk arah impor ada di berapa hari di bea cukai. Leg laut direct sebenarnya pendek; yang benar-benar memanjangkan total justru rangkaian sebelum keberangkatan — booking, menunggu feeder, gate-in, cut-off — ditambah pemeriksaan dan release setelah tiba. Jadi pisahkan dua angka saat merencanakan: hari kapal di laut, dan hari barang dari pabrik ke pabrik.
Bagaimana kiriman ini berjalan
Tentukan dulu basis angka mana yang dibutuhkan: leg laut direct dan port-to-port adalah dua angka berbeda — pakai yang terakhir untuk perencanaan produksi, dan yang pertama saat mengunci space. Kedua, konfirmasi tier asal dan HS code, karena tarif dan kondisi pengawasan di sisi Tiongkok bergantung pada keduanya. Ketiga, jadwalkan rangkaian sebelum keberangkatan: booking, menunggu feeder, gate-in, dan cut-off — bagian ini sering lebih panjang daripada leg lautnya sendiri.
Tiga kesalahan yang paling sering menghukum jalur ini
- Menganggap leg laut direct sebagai waktu door-to-door: leg laut ke Tiongkok pendek, tetapi booking, menunggu feeder, cut-off, dan pemeriksaan jika digabung sering lebih panjang, sehingga merencanakan produksi hanya dari leg laut pasti meleset.
- Berangkat dari pelabuhan luar tanpa menghitung transshipment: kiriman Surabaya, Semarang, dan Makassar sering harus transshipment via Singapura atau ditarik balik ke Jakarta dulu, dan leg itu harus dicantumkan terpisah.
- Menunda pemeriksaan sertifikat asal dan HS code sampai setelah kapal berangkat: tarif dan kondisi pengawasan di sisi Tiongkok bergantung pada keduanya, memperbaiki saat tiba jauh lebih mahal daripada memeriksa sebelum berangkat.
Pertanyaan yang sering diajukan, jawaban standar
Berapa hari sebenarnya Indonesia ke Tiongkok di laut?
Leg laut direct memang pendek, tetapi itu hari kapal berlayar, bukan hari barang dari pabrik ke pabrik. Untuk perencanaan produksi pakai basis port-to-port, dan pisahkan kedua angka itu.
Mengapa aktual yang dilacak jauh lebih panjang dari kutipan yang saya lihat?
Karena angka aktual sudah termasuk transshipment dan rollover, sedangkan kutipan kebanyakan hanya menghitung leg direct. Keduanya nyata dan untuk keperluan berbeda: direct untuk mengunci space, aktual untuk merencanakan.
Apakah berangkat dari pelabuhan luar selalu lebih lambat?
Biasanya ya, karena butuh satu transshipment ekstra atau ditarik ke pelabuhan utama dulu. Tetapi tidak selalu — beri tahu kami pelabuhan asalnya, kami berikan kisaran spesifik sesuai jadwal berlaku.
Sumber dan basis (bisa dicek sendiri)
Basis yang dipakai di halaman ini:Dua baris pertama adalah leg laut; aktual yang dilacak di jalur ini menunjukkan median sekitar 21,5 hari (termasuk transshipment dan rollover), jadi rencanakan dengan kisaran bukan satu angka
Sumber publik di balik angka waktu tempuh di halaman ini, diambil 2026-09-28. Basis tiap sumber berbeda: ada yang mengutip leg laut direct, ada yang port-to-port, ada yang sudah termasuk transshipment dan tunggu sandar. Jadwal operator kapal pada tanggal booking yang berlaku.
Langkah berikutnya
Menganggap leg laut direct sebagai waktu door-to-door: leg laut ke Tiongkok pendek, tetapi booking, menunggu feeder, cut-off, dan pemeriksaan jika digabung sering lebih panjang, sehingga merencanakan produksi hanya dari leg laut pasti meleset. Kirimkan kami asal, alamat pengiriman akhir, jenis barang, jumlah koli dan berat volume, serta seberapa mendesak. Kami kembalikan rutenya (direct atau transshipment), kisaran waktu tempuh, basis di baliknya, dan daftar hal yang harus ditanyakan.
Minta penawaran